Ukmpiofarmasiunsoed’s Blog

Epilepsi Bukan Penyakit Kutukan

Posted on: September 27, 2009

Di masa lalu, epilepsi atau yang lebih dikenal sebagai ayan sering dikaitkan dengan hal-hal mistik, misalnya kesurupan atau kutukan. Penderitanya seringkali dijauhi dan diasingkan karena epilepsi dianggap menular, dan banyak orang mengaitkannya dengan keterbelakangan mental dan kegilaan. Stigma ini menyebabkan orang kerap kurang terbuka dengan penyakit epilepsi, yang  justru menyebabkannya tidak mendapatkan pengobatan semestinya.

Pemikiran ini mulai ditinggalkan seiring dengan ditemukannya fakta bahwa epilepsi disebabkan oleh gangguan hantaran impuls di otak. Otak kita berfungsi melalui berjuta-juta muatan listrik kecil yang lalu lalang di antara sel saraf dalam otak ke seluruh bagian tubuh. Pada penderita epilepsi, proses ini diganggu oleh ‘ledakan’ energi listrik yang lebih kuat dari biasanya, sehingga mempengaruhi kesadaran, gerakan tubuh atau sensasi seseorang selama beberapa waktu.

Serangan epilepsi dikelompokkan berdasarkan bagian otak yang diserang, yaitu serangan parsial (menyerang sebagian otak) dan serangan keseluruhan. Serangan parsial dapat melemahkan kesadaran, dapat juga tidak. Sedangkan serangan keseluruhan dapat menyebabkan hilangnya kesadaran dan atau kejang. Pasien epilepsi dapat digolongkan berdasarkan jenis kejang yang dialaminya :

  • Kejang grand mal , yaitu jenis epilepsi yang paling banyak terjadi. Pasien yang megalami serangan tiba-tiba jatuh, kejang, napas terengah-engah, dan keluar air liur. Beberapa pasien umumnya ngompol atau menggigit lidah. Serangan terjadi beberapa menit kemudian diikuti lemah, bingung, sakit lepala, atau tertidur.
  • Kejang petit mal, umumnya terjadi pada anak-anak atau awal remaja. Pasien tiba-tiba melotot atau mata berkedip-kedip dengan kepala terkulai. Serangan hanya terjadi beberapa detik dan bahkan sering tidak disadari.
  • Kejang myoclonic, biasanya terjadi pagi hari setelah bangun tidur berupa sentakan sesaat secara tiba-tiba. Kejang ini dapat dialami oleh penderita epilepsi maupun orang normal/sehat.
  • Kejang atonic, merupakan jenis serangan yang paling jarang terjadi. Pasien tiba-tiba jatuh, dan pulih kembali beberapa saat kemudian.

Kondisi yang dialami penderita epilepsi ini mungkin sudah ada sejak lahir, atau bisa terjadi karena trauma di kepala, tumor otak, masalah perkembangan otak, infeksi (seperti meningitis atau encephalitis) atau pemaparan senyawa toksik. Tapi sebagian besar dari kasus epilepsi yang ada, penyebabnya tidak diketahui. Epilepsi tidak mengenal ras dan batas sosial. Penyakit ini terjadi pada pria dan wanita serta dapat terjadi pada usia berapapun.

Terapi epilepsi dapat dilakukan dengan konsumsi obat antiepilepsi, bedah dan diet khusus. Sejauh ini, terapi menggunakan obat adalah yang paling umum dan merupakan terapi utama pada pasien epilepsi. Golongan obat antiepilepsi atau antikonvulsan seperti: fenitoin,  karbamazepin, asam valproat, fenobarbital, clobazam, gabapentin,  dan tiagabin. Obat-obat ini tidak menyembuhkan epilepsi tapi hanya mengontrol epilepsi yaitu mencegah serangan kejang dan atau mengurangi frekuensinya. Obat-obat ini biasanya harus dikonsumsi dalam jangka waktu lama untuk mencegah serangan. Jika dalam jangka waktu tertentu sudah tidak pernah terkena serangan lagi, obat dapat secara perlahan-lahan diturunkan dosisnya sehingga digunakan dengan dosis sekecil mungkin yang masih efektif. Pasien perlu kontrol secara teratur, sehingga dokter dapat memantau perkembangan penyakitnya dan menyesuaikan dosis obatnya.

Selain obat, bedah epilepsi yang dilakukan oleh ahli bedah saraf sekarang ini juga semakin populer karena pembedahan dapat menghilangkan bagian abnormal dari otak yang menyebabkan epilepsi. Meskipun tidak sepenuhnya bebas dari serangan kejang, setidaknya pembedahan dapat  mengurangi frekuensi kejang dan ketergantungan pada obat.

Tipe epilepsi tertentu kadang juga bisa efektif diatasi dengan pengaturan makanan, yang disebut diet ketogenik, yaitu diet tinggi lemak dan rendah karbohidrat serta masukan cairan yang dibatasi. Tetapi diet ketogenik tidak bagus untuk jantung dan ginjal sehingga bisa menyebabkan masalah kesehatan. Untuk itu perlu dikonsultasikan pada dokter ahlinya.

Sumber : http://piogama.ugm.ac.id/index.php/2009/02/hidup-normal-dengan-epilepsi/

Tuh kan ternyata epilepsi bukan penyakit kutukan. makanya kalau ada orang2 disekitar kita yang terkena penyakit ini sebaiknya jangan dijauhi ya..

Nih riset kasih tambahan jurnal tentang epilepsi yang mungkin bermanfaat.

Untuk download klik disini!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

calendar

September 2009
S S R K J S M
« Jun   Okt »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
%d blogger menyukai ini: